TANGERANG, terbitan.com – Gesit, tegas dan berani. Tiga kata itulah yang mewakili karakter Elvi, S.Pd, Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kecamatan Gunung Kaler Kabupaten Tangerang.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan Pemilu 2019 yang tinggal menghitung hari, aktivitasnya pun makin meningkat. Sejak pagi hingga malam hari, dia bersama perangkatnya terus-menerus melakukan pengawasan.
Bahkan, mendekati Pemilu seperti sekarang, istirahatnya pun berkurang. Tak jarang wanita manis kelahiran 23 Oktober ini pulang hingga larut malam untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan di Kantor Panwaslu. Di sisi lain, dia juga harus sering blusukan tiap malam ke kampung-kampung untuk monitoring bawahannya demi penguatan tugas-tugas mereka
Belum lagi kesibukan koordinasi yang intens dengan Bawaslu Kabupaten dalam berbagai forum harus dijalani. Namun wanita yang masih lajang ini seolah tak mengenal lelah. Staminanya tetap prima.
“Saya nggak terlalu kaget dengan pekerjaan kepemiluan seperti ini. Sebab dari tahun 2008 sudah di PPK,” ujar Elvi. Latar belakangnya sebagai aktivis kampus saat menempuh S1 di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) FKIP jurusan Bahasa Inggris juga menjadi bekalnya dalam pekerjaan sekarang. Setelah itu, di tahun 2017 hingga sekarang duduk di Panwaslu.
Wanita yang kesehariannya mengajar di SDN Tamiang 3 Gunung Kaler ini bercerita, saat masih kuliah, tepatnya di 2010, dia menjadi Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMT. Setahun kemudian, Elvi terpilih menjadi Ketua Umum BEM UMT. Bahkan, jabatannya ini diperpanjang hingga dirinya lulus tahun 2013.
Kini, di sela-sela kesibukannya menjadi guru dan pengawas Pemilu 2019, Elvi masih menyisihkan sebagian waktunya untuk menyelesaikan kuliah S2 di UIN Syarif Hidayatullah Ciputat.
Dalam pengawasan Pemilu, sikap tegas dan berani wanita murah senyum ini memang diakui. Saat Pemilihan Bupati (Pilbup) 2018, dimana dia menjadi ketua Panwaslu, polemik sempat terjadi di sebuah TPS. Dengan tegas, dia langsung menindaklanjuti kecurangan yang terjadi hingga akhirnya di TPS itu dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU).

Kini, dalam Pemilu 2019, hampir setiap hari dia bersama bawahannya yakni PPDK (Panitia Pengawas Desa/Kelurahan) dan Trantib Kecamatan Gunung Kaler rajin mencopoti alat peraga kampanye (APK) yang melanggar yakni yang dipasang di jalan-jalan protokol dan ditempel di pohon-pohon.
Dengan keberaniannya itu, Elvi mengaku tidak pernah mendapat intimidasi, tekanan maupun ancaman dari pihak lain. “Yang saya lakukan sesuai prosedur dan aturan saja. Kalau ada yang tidak berkenan, berarti dia sudah melanggar aturan juga,” ujarnya.
Saat ditanya apakah capek dengan segudang aktivitasnya ini ? “Sudah pasti capek. Tapi saya merasa puas karena selama ini masih dipercaya menjadi bagian dari penyelenggaraan Pemilu untuk mengawal pesta demokrasi agar berjalan baik,” tutupnya mengakhiri perbincangan dengan terbitanbanten.com (grup terbitan.com).



Tinggalkan Balasan