SANANA, Terbitan.com – Masyarakat Kota Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula(Kepsul) Provinsi Maluku Utara (Malut) yang mendapat layananan pasokan air baku dari Perusahaan Daerah Air Minum, sementara sisanya memanfaatkan air sumur untuk konsumsi sehari-hari.
Pasalnya, Jumlah pelanggan: 3.779 SL Penduduk (data tahun 2019): 112.610 jiwa Karyawan: 28 orang, Cakupan pelayanan perkotaan: 55,08%, Cakupan seluruh kabupaten: 16,69% Tarif rata-rata: Rp 2.578,00 HPP rata-rata: Rp4.547,00
NRW: 31,18%
Kemudian Sumber air: Sumur gali, sumur bor dan air permukaan Total kapasitas produksi: 44,80 l/d, Kapasitas terpakai: 44,80 l/d, Efisiensi penagihan: 40%, Rata-rata pengaliran: 24 jam
Akan tetapi penilaian kinerja versi Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) (TA) 2019 lalu, Kurang sehat bekerja karena tidak mendapatkan gaji. Kondisi tersebut pada akhirnya membutuhkan komitmen bersama seluruh karyawan agar PDAM tersebut dapat bangkit kembali.
Menurut Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) H. Djuwadi, saat diwawancari diruang kerjanya berdasarkan evaluasi yang dilakukan PDAM Kepsul, karena ada sejumlah tantangan yang diidentifikasi sebagai penyebab rendahnya kinerja PDAM tersebut. Di antaranya ialah keterbatasan sumber air pada wilayah pelayanan, khususnya pelayanan Kota Sanana dan sekitarnya, “ujar kepada Terbitan.com, Sabtu (4/04/20)
Lanjut Djuwadi, Jaringan pipa distribusi banyak belum terkoneksi dan terbatasnya aksesoris pipa, kendala jaringan pipa sudah mulai termakan usia, aksesoris perpipaan yang membutuhkan banyak penggantian, serta belum terbentuknya zona-zona pelayanan secara terpadu.
Selain itu, pada 2018, sesuai pemeriksaan dari BPPSPAM melalui BPKP Perwakilan Maluku Utara, tingkat kehilangan air/NRW PDAM Kepulauan Sula mencapai 50,97 persen. Ditambah lagi, soal tarif yang masih belum berada dalam posisi full cost recovery (FCR), “tutup Djuwadi {GNS}



Tinggalkan Balasan