SERANG, terbitan.com – Di wilayah Kabupaten Serang, nama Ustadz Isman AS mungkin kurang begitu populer. Tapi siapa sangka kepeduliannya terhadap pembinaan agama untuk warga dan pemuda, khususnya di Kecamatan Cikande dan Binuang Serang luar biasa besar.
Sudah 27 tahun ini ustadz yang lahir di Serang 21 April 1965 ini mengajar mengaji. Setiap hari, dia mengajar di lima majelis taklim. Satu Kecamatan ada di Binuang yakni Al Ikhlas sedangkan 4 lainnya di Kecamatan Cikande yakni Naimatul Hikmah, Al Hijaiyah, Mardhotillah dan Baitul Mutaqin.
Lalu sore harinya, pria yang dikaruniai 6 anak ini mengajari anak-anak dan remaja di kampungnya untuk mengaji. Dari semua ini dia tidak menetapkan honor dari para muridnya. “Seikhlasnya saja. Saya tidak pernah meminta honor,” ujarnya.
Satu-satunya penghasilan tetap Isman adalah dari mengajar di MTs/MA Mathlan El-Awam yang tidak jauh dari rumahnya Kp Sema Desa Koper Cikande Serang. Di sekolah dia sudah 16 tahun mengajar. Sebelumnya suami dari Jamilah ini pernah mengajar di MD Azzauhirotum Nakiyah dan MI Darul Khoirot.
Ditanya honornya per bulan sebagai guru, dia mengatakan hanya Rp.300 ribu per bulan. “Kalau ditambah tunjangan lain-lain saya dapat Rp.500 ribu sebulannya,” kata Ustadz Isman di rumahnya.
Meski honornya sebagai guru sangat kecil, tapi hal itu juga tidak membuatnya mengeluh. “Saya hanya ingin berbagi ilmu. Niat saya ibadah. Soal materi Allah yang mengatur,” ujarnya.
Jika dipikir secara logika, pendapatannya tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi untuk membiayai pendidikan sekolah anaknya. Tapi saat ini ada anaknya yang kuliah. “Ahamdulillah, Allah selalu beri rejeki buat kami sekeluarga,” katanya.
Yang memprihatinkan, di tengah himpitan ekonomi, sudah sejak 14 tahun ini Ustadz Isman dan keluarga mengalami ujian hidup. Sebab istrinya Jamilah sejak tahun 2005 mengalami buta secara mendadak.
Meski sudah berobat kemana-mana, tapi belum membuahkan hasil. Dengan kondisi itu, sebagian besar aktvitas rumah juga menjadi tanggungjawabnya dibantu sang anak.
Ke depan, Ustadz Isman bertekad meningkatkan pembinaan generasi muda di wilayahnya. Katanya, anak muda harus bisa membaca Al Quran. Lalu memahami tajwid, menghapal ayat-ayat Al Quran, dan memahami fiqih serta mengetahui sejarah Islam.
“Itulah yang ingin saya lakukan, turut serta mencetak generasi muda yang berakhlak mulia,” ujarnya seraya mengatakan, penanaman nilai-nilai agama penting bagi generasi muda. Untuk itu dia ingin suatu saat dapat membangun pondok pesantren hingga dapat mengamalkan ilmu yang diiliki lebih maksimal.
“Melalui pondok pesantren ini, saya akan bina generasi muda yang sekarang banyak dari mereka prilakunya tidak sesuai tuntunan agama,” jelasnya.



Tinggalkan Balasan