TANGERANG, terbitan.com – Sugiri, Koordinator pengangkut sampah Pasar Kresek Tangerang buka kartu. Dia mengaku setiap bulan harus setor uang kepada oknum salah satu pejabat desa di Kresek sebagai bagian dari pekerjaannya mengangkut sampah.

“Tiap bulan saya setor 200 ribu rupiah. Katanya, uang itu untuk membeli perlengkapan mengangkut sampah,” ujar Sugiri kepada terbitan.com. Atas pungutan itu, dia bersama dua rekannya pun patungan untuk menyetor uang tersebut.

Menurut pria ini, meski alasan oknum desa itu dana tersebut untuk melengkapi sarana kerjanya, tapi sejauh ini tidak pernah ada perlengkapan yang diterima. “Saya cuma dapat bantuan satu gerobak pengangkut sampah saja. Tidak ada yang lain,” aku Sugiri yang saat terbitanbanten.com konfirmasi didampingi pimpinan LSM Gerakan Rakyat Anti Korupsi Indonesia, Sahari.

Untuk menunjang kerjanya, selama ini dia harus modal sendiri, termasuk melengkapi sarana kerja untuk dua anak buahnya, diantaranya gerobak sampah. “Jangankan perlengkapan, seragam lapangan saja tidak ada bantuan. Harusnya kan diseragamkan seperti petugas kebersihan di pasar-pasar lain,” terangnya.

Menurutnya, untuk operasional dan menggaji dua anak buahnya, dia mendapatkan uang dari para pedagang di pasar saja. “Tidak pernah ada bantuan uang tambahan dari pihak pemerintahan,” jelas Sugiri.

Terpisah, Kepala Desa Kresek Mahrupul beberapa waktu lalu pernah membantah adanya pungutan ini. Dia mengatakan tidak pernah melakukan pungutan kepada para petugas sampah pasar. “Saya tidak pernah menerima serupiah pun uang bulanan dari mereka,” bantah Mahrupul.

Dia juga mengaku tidak tahu apakah ada staf di desanya yang memungut uang kepada petugas sampah tersebut. Bahkan kini, tampat pembuangan sampah tempat biasa para petugas membuang sampah itu telah ditutup karena menimbulkan bau.

Penulis: Tim Redaksi Terbitan Banten