Surabaya, terbitan.com – Di tengah lonjakan inflasi dan kebijakan refocusing anggaran yang kembali digencarkan pemerintah, banyak pelaku industri, termasuk perusahaan pers dan penyedia jasa layanan publik, mempertanyakan efektivitas keberadaan sistem e-katalog yang selama ini digadang-gadang sebagai solusi transparansi dan efisiensi pengadaan.

Dalam praktiknya, e-katalog memang menjadi platform yang menjanjikan kemudahan dan keterbukaan bagi pelaku usaha untuk masuk dalam sistem belanja pemerintah. Namun di tahun 2025, ketika banyak kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah melakukan pengetatan belanja akibat tekanan ekonomi global dan kebutuhan mendesak di sektor prioritas, realisasi pembelian melalui e-katalog menurun drastis.

“Percuma kami berupaya memenuhi syarat administrasi yang berat untuk bisa tayang di e-katalog, kalau pada akhirnya anggarannya dipangkas dan belanja dibekukan,” ujar Adi pelaku usaha di sektor media Dari Sampang Madura. “Kami sudah investasi besar untuk masuk sistem, tapi tidak ada jaminan transaksi.”

Refocusing anggaran yang dialihkan ke sektor-sektor darurat seperti kesehatan, ketahanan pangan, dan energi menjadi tantangan berat bagi sektor jasa non-prioritas, termasuk industri kreatif, media, dan penyedia layanan komunikasi. Banyak dari mereka yang kini menghadapi stagnasi penjualan meskipun telah mengikuti semua prosedur legal dan administratif.

Sementara Wasono Salah Satu Redaktur di Perusahaan pers yang selama ini menjadi salah satu mitra dalam penyebarluasan informasi pembangunan juga terkena imbas. Penurunan drastis alokasi anggaran publikasi dan iklan pemerintah membuat banyak media harus melakukan efisiensi operasional dan memutar otak untuk bertahan.

“Kami bukan sekadar penyedia jasa, tapi bagian dari ekosistem demokrasi. Kalau anggaran terus dipangkas, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang?” kata Wasono.

Dengan kondisi seperti ini, para pelaku usaha mendesak evaluasi menyeluruh terhadap strategi pengadaan pemerintah. E-katalog yang seharusnya menjadi jembatan justru terasa seperti etalase kosong jika tidak disertai dengan anggaran yang nyata.