SEJARAH, Terbitan.com – Nama Ronggolawe tak bisa dilepaskan dari sejarah awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Sosok yang dikenal sebagai panglima tangguh ini bukan hanya dikenang karena keberaniannya di medan perang, tetapi juga karena kesetiaannya terhadap nilai-nilai keadilan, serta peran pentingnya dalam mendukung pendirian kerajaan besar yang menjadi tonggak sejarah Nusantara.

Ronggolawe memiliki nama lengkap Raden Arya Ronggolawe. Ia merupakan putra dari Adipati Arya Wiraraja, penguasa wilayah Madura yang memiliki pengaruh besar dalam politik kerajaan Singhasari dan Majapahit pada masa transisi kekuasaan dari Raja Kertanegara ke Raden Wijaya.

Silsilah Ronggolawe menunjukkan bahwa ia berasal dari kalangan bangsawan tinggi, dengan ayahnya, Arya Wiraraja, adalah seorang tokoh penting dalam pemerintahan Singhasari sebelum akhirnya membelot dan mendukung Raden Wijaya mendirikan Majapahit. Kedekatan antara Ronggolawe dan Raden Wijaya sudah terjalin sejak muda, membuatnya menjadi salah satu pendukung utama dalam perang perebutan tahta melawan Jaya Katwang Kediri yang sebelumnya telah menaklukkan Singosari.

Dalam sejarah, Ronggolawe dikenal sebagai panglima perang yang terampil dan pemberani. Ia turut serta dalam berbagai pertempuran penting, termasuk membantu Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol yang menyerbu Jawa pada tahun 1293. Keberhasilannya dalam perang tersebut membuatnya memperoleh pengaruh dan kedudukan tinggi di pemerintahan awal Majapahit.

Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya, Ronggolawe kemudian diangkat menjadi Adipati Tuban, sebuah wilayah penting di pesisir utara Jawa. Di sana, ia membangun basis kekuatan maritim dan memperkuat struktur pemerintahan lokal yang loyal terhadap pusat kekuasaan di Trowulan.

Namun, masa kejayaan Ronggolawe tidak bertahan lama. Setelah berdirinya Majapahit dan naiknya Raden Wijaya sebagai raja pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, Ronggolawe mulai menunjukkan sikap kritis terhadap beberapa kebijakan kerajaan, terutama yang berkaitan dengan pengangkatan pejabat tinggi.

Salah satu konflik besar terjadi ketika Mahapati Nambi diangkat menjadi pejabat tinggi kerajaan. Ronggolawe, yang merasa bahwa Nambi tidak layak karena intrik-intriknya di masa lalu, menentang keputusan tersebut secara terbuka. Ia bahkan sempat menghadap Raja Kertarajasa untuk menyampaikan protesnya.

Dengan kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Pejabat Kedaton yang ingin menyingkirkan Ronggolawe dari Majapahit, Dyah Halayuda yang dikenal dengan fitnah kejinya kemudian memanfaatkan situasi tersebut.

Penolakan Raja terhadap tuntutan Ronggolawe membuatnya kecewa. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan kembali ke Tuban. Namun, ketegangan meningkat hingga akhirnya Ronggolawe dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas kerajaan.

Pada tahun 1295, meletuslah pertempuran antara pasukan kerajaan Majapahit dengan pasukan Ronggolawe di dekat daerah Tambak Beras. Pertempuran ini dikenal sebagai Perang Tambak Beras. Meskipun pasukannya lebih sedikit, Ronggolawe bertarung dengan gagah berani, namun akhirnya gugur dalam pertempuran tersebut.

Kematian Ronggolawe menjadi duka mendalam bagi masyarakat Tuban dan bahkan bagi sebagian tokoh kerajaan Majapahit sendiri. Raja Kertarajasa kemudian menyadari bahwa Ronggolawe bukanlah pemberontak biasa, melainkan sosok idealis yang menjunjung tinggi nilai kebenaran dan keadilan.

Sebagai bentuk penghormatan, Raja memerintahkan agar jasad Ronggolawe dimakamkan secara layak. Lokasi pemakamannya kini berada di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Makam ini menjadi salah satu situs sejarah yang banyak dikunjungi oleh masyarakat dan peneliti sejarah.

Di sekitar makamnya, masyarakat setempat masih menyelenggarakan ritual ziarah dan peringatan setiap tahun. Ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kepahlawanan Ronggolawe tetap hidup di tengah masyarakat.

Ronggolawe bukan hanya dikenal sebagai pejuang, tetapi juga sebagai pelindung rakyat kecil. Ia dipercaya selalu berpihak kepada mereka yang lemah dan tertindas, menjadikan namanya harum bahkan berabad-abad setelah wafatnya.

Legenda Ronggolawe berkembang kuat di daerah pesisir utara Jawa, terutama di Tuban. Banyak kisah turun-temurun yang menyebutkan bahwa arwahnya masih menjaga wilayah tersebut dari ancaman dan ketidakadilan.

Di dunia kesusastraan Jawa, Ronggolawe kerap disebut dalam berbagai babad dan cerita rakyat. Tokohnya dianggap sebagai lambang kesetiaan dan pengabdian terhadap negara yang dilandasi oleh prinsip moral.

Sejumlah budayawan dan sejarawan menganggap kisah Ronggolawe sebagai gambaran konflik antara idealisme dan kekuasaan. Ia menjadi contoh bagaimana seseorang bisa memilih jalan yang sulit demi mempertahankan prinsip meskipun harus berakhir tragis.

Kini, Ronggolawe menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sejarah Kabupaten Tuban. Namanya diabadikan dalam berbagai institusi, seperti jalan, sekolah, hingga stadion, yang mencerminkan penghormatan terhadap jasa dan perjuangannya.

Peninggalan sejarah Ronggolawe terus dijaga dan dikaji oleh para sejarawan. Dengan mengangkat kembali kisahnya, generasi muda diharapkan dapat belajar bahwa keberanian dan integritas merupakan warisan yang tidak lekang oleh zaman.

Sebagai tokoh sejarah, Ronggolawe bukan hanya dikenang karena peperangannya, tetapi karena keteguhan hatinya dalam menghadapi dilema politik yang rumit. Semangatnya masih menjadi inspirasi hingga hari ini.