MADIUN, terbitan.com – Di sudut Dusun Golang, Desa Kuwiran, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, deretan tanaman melon tampak tumbuh rapi di dalam sebuah bangunan greenhouse. Bukan hamparan lahan terbuka, melainkan sistem hidroponik yang bersih, tertata, dan ramah pengunjung. Tempat ini dikenal warga dengan nama Greenhouse Paman Jack.

Greenhouse tersebut menawarkan konsep wisata edukasi petik melon hidroponik yang terbuka untuk umum. Berdiri sejak akhir 2023, Greenhouse Paman Jack perlahan menjadi destinasi alternatif bagi warga Madiun dan sekitarnya yang ingin merasakan sensasi memetik buah langsung dari kebun.

Pengelola greenhouse, Marjoko, memiliki latar belakang yang tak biasa. Ia bukan petani melon sejak awal, melainkan mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Taiwan yang selama puluhan tahun bekerja sebagai mekanik pabrik. Rasa jenuh serta keinginan untuk kembali ke kampung halaman menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Dua tahun sebelum pulang, saya sering nonton YouTube. Dari situ tertarik budidaya melon hidroponik karena cocok untuk lahan sempit tapi hasilnya bisa maksimal,” ujar Marjoko saat ditemui, Sabtu (27/12/2025).

Sekembalinya ke Desa Kuwiran, Marjoko tidak sekadar mencoba bertanam melon. Ia memilih mengembangkan konsep wisata edukasi agar kebunnya memiliki nilai tambah bagi masyarakat desa. Pengunjung diperbolehkan memilih dan memetik melon sendiri, kemudian menimbang hasil petikan di kasir dengan harga Rp25.000 per kilogram.

Di dalam greenhouse, sedikitnya empat varietas melon dibudidayakan, yakni Adinda, Yellow Emperor, Koreana, dan Inthanon. Selain itu, beberapa varietas lain seperti Lavender, Sweet Net, dan Bushami juga mulai dikembangkan.

“Kalau konsep wisata petik, harus banyak jenis. Biar orang penasaran dan mau datang lagi,” kata Marjoko.

Keputusan membuka wisata petik melon bukan tanpa pertimbangan. Menurut Marjoko, menjual hasil panen ke tengkulak sering menempatkan petani pada posisi yang lemah, terutama dalam hal harga dan standar sortir.

“Kalau ke tengkulak harganya lebih murah, masih ada sortir. Takutnya banyak yang nggak masuk. Kalau wisata petik, orang datang sendiri ke sini,” jelasnya.

Saat ini, greenhouse kedua yang dikelolanya memiliki sekitar 800 tanaman melon. Selain menjadi sumber penghasilan, Marjoko berharap keberadaan Greenhouse Paman Jack mampu memicu pertumbuhan ekonomi lokal serta mengembangkan potensi wisata desa.

Salah satu pengunjung, Nita, mengaku mengetahui Greenhouse Paman Jack dari banner yang terpasang di depan Rumah Makan Selempung. Rasa penasaran membuatnya datang seusai kegiatan PKK.

“View-nya bagus, langsung dari kebun. Lebih fresh dan dekat dari rumah,” ujar Nita sambil membawa melon jenis Inthanon yang baru dipetiknya. Ia menilai harga Rp25 ribu per kilogram masih tergolong terjangkau dengan kualitas rasa yang manis.

Di tengah keterbatasan lahan dan tantangan pertanian modern, Greenhouse Paman Jack menjadi contoh nyata bagaimana ide, pengalaman, dan teknologi sederhana dapat berpadu. Dari perjalanan seorang mantan TKI, kini tumbuh ruang belajar sekaligus wisata yang menumbuhkan harapan baru bagi Desa Kuwiran.