PAMEKASAN, terbitan.com – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pamekasan dikemas dengan cara berbeda oleh PC Fatayat NU Pamekasan. Bukan dengan upacara formal, melainkan lewat panggung Stand Up Comedy bertajuk “Santri Berbicara”.
Acara yang digelar di Kantor PCNU Pamekasan, menghadirkan Ning Inayah Wahid sebagai pengisi utama.
Ketua PC Fatayat NU Pamekasan, Ny. Mariyatul Qibtiyah yang akrab disapa Ning Qibtiyah mengatakan, tema Santri Berbicara sengaja dipilih karena Fatayat sendiri lahir dari rahim pesantren.
“Fatayat ini berasal dari pesantren. Komitmen saya sebagai ketua, bagaimana Fatayat itu kembali ke pesantren,” ujarnya.
Menurut Ning Qibtiyah, pesantren harus menjadi wadah utama dan terpenting dalam menjalankan seluruh program kerja Fatayat NU di Pamekasan. Tanpa pesantren, menurutnya, Fatayat akan kehilangan akar gerakannya.
Tak hanya soal nostalgia ke pesantren, tema Santri Berbicara juga dimaknai sebagai ruang kebebasan bagi santri untuk bersuara. Ia ingin kader Fatayat berani menyuarakan hal-hal yang dianggap benar.
“Dengan tema ini, kita sebagai santri dan kader Fatayat punya kebebasan untuk menyuarakan kebenaran dan menyuarakan keadilan,” tegas Ning Qibtiyah.
Semangat itu diamini oleh Ning Inayah Wahid. Dalam tausiyah kebangsaannya, putri Gus Dur tersebut menegaskan bahwa kebebasan berbicara adalah anugerah besar dari negara demokrasi yang harus dimanfaatkan santri.
“Alhamdulillah kita saat ini bisa berbicara dengan bebas. Negara yang demokrasi memberikan kebebasan menyampaikan pendapat,” ungkap Ning Inayah.
Menurut Ning Inayah, santri tidak boleh diam melihat ketidakadilan. Justru dengan latar belakang pesantren, santri punya modal moral untuk menjadi penyeimbang di ruang demokrasi.
Ia berharap, lewat kemasan komedi yang segar ini, para santri dan alumni pondok pesantren tertarik untuk bergabung dan melanjutkan estafet kepemimpinan Fatayat ke depan.
“Harapan saya lewat Stand Up Comedy ini ada ketertarikan dan rasa tanggung jawab dari pondok-pondok pesantren, dari santri-santri alumni untuk ikut serta melanjutkan estafet kepemimpinan yang akan datang,” harap Ning Qibtiyah.
Lebih jauh, ia menjelaskan Santri Berbicara juga menjadi ajakan bagi santri untuk berani bersuara dalam konteks demokrasi, terutama soal keadilan dan isu kepemimpinan perempuan.
“Yang penting bagaimana santri ikut andil menyuarakan keadilan di negara demokrasi ini, termasuk soal kepemimpinan perempuan,” kata Ning Qibtiyah.
Untuk itu, acara tersebut sengaja mengundang sejumlah tokoh perempuan berpengaruh di Pamekasan, mulai dari tokoh masyarakat hingga tokoh muda perempuan yang aktif di berbagai bidang.



