NGAWI, terbitan.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Geneng Klitik 2, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur membuka ruang bagi siswa, guru, hingga sekolah untuk menyampaikan kritik dan masukan, termasuk soal variasi lauk dan menu makanan bergizi gratis (MBG) yang menarik dan disukai anak anak dengan tetap menyesuaikan ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN).
Koordinator SPPG Geneng Klitik 2, Agung mengatakan, masukan dari penerima manfaat menjadi salah satu bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.
“Menu kami bervariasi. Kami selalu berkomunikasi dengan PIC sekolah dan juga menyampaikan media sosial SPPG. Anak-anak bisa menyampaikan permintaan menu, kemudian ahli gizi bersama chef merumuskannya. Kami mengikuti permintaan yang diperbolehkan BGN. Kalau tidak diperbolehkan, tentu tidak kami lakukan,” ujar Agung. Jumat (16/10/26)
Agung mengaku selama sembilan bulan dapurnya beroperasi belum ada kasus keracunan maupun makanan basi dari dapur yang melayani 2500 penerima manfaat dengan 44 orang pekerja. Pasalnya, dapur yang dikelolanya telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi. Pun petugas Dinkes juga melakukan pemantauan terhadap kebersihan dan kesesuaian tempat pengolahan makanan dengan standar yang berlaku.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan, seperti telur, ayam, dan daging, Pasar Besar Ngawi menjadi salah satu tempat belanja. Sementara untuk sayuran, pihaknya masih banyak mendatangkan pasokan langsung dari wilayah Magetan karena ketersediaan sayuran segar di pasar-pasar Ngawi dinilai belum mencukupi kebutuhan dapur setiap hari.
“Kami memilih bahan lokal dengan memberdayakan pedagang sekitar dan selain bagian dari upaya memenuhi kebutuhan dapur sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi pedagang di sekitar wilayah operasional SPPG,” jelas Agung.
Kualitas keamanan pangan juga tak luput dari perhatiannya, Ia menugaskan petugas quality control (QC) untuk memeriksa kelayakan bahan makanan sebelum diolah. Apabila bahan yang datang tidak sesuai dengan persyaratan, bahan tersebut dapat ditolak dan harus diganti dengan bahan yang memenuhi ketentuan. Selain itu pihak SPPG juga menyimpan sampel makanan yang dimasak selama 24 jam sebagai langkah antisipasi jika muncul persoalan setelah makanan didistribusikan.
Menariknya, ada kas relawan dari hasil penjualan sisa nasi yang telah dikeringkan. Dari sekitar 1,5 kuintal beras yang dimasak setiap hari, Agung menyebut nasi yang tersisa berkisar 16–20 kilogram.
Sebagai owner Sunaryo sering mengingatkan pentingnya tanggung jawab seluruh pekerja dalam mengolah makanan bagi anak-anak. Ia mengingatkan bahwa setiap hidangan harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, mulai dari pemilihan bahan hingga penyajian.
“Saya selalu pesan pada pimpinan dapur termasuk semua anggotanya untuk selalu melakukan yang terbaik dan jangan macam-macam. Karena semua pegawai bekerja untuk mencari nafkah dan ibadah. Apalagi menu yang disajikan itu untuk anak kita sendiri,” kata Sunaryo, yang memiliki tiga dapur SPPG di Kabupaten Ngawi.
Kepala SMAN 2 Ngawi, Sugiyo, mengaku senang karena pengelola SPPG bersedia menerima kritik dan mengevaluasi menu yang disajikan kepada siswa.
Salah satu masukan yang disampaikan adalah mengenai frekuensi lauk telur. Menurut Sugiyo, pemberian lauk yang sama terlalu sering berpotensi membuat siswa bosan dan mengurangi minat makan.
“Saya sampaikan kalau lauk telur seminggu jangan sampai dua kali. Kalau dikasih telur seminggu dua kali, siswa tidak mau makan. Dari masukan itu, mereka mau dievaluasi,” ungkap Sugiyo.
Ia menambahkan, menu kekinian yang diolah dari bahan pangan lokal menjadi salah satu pilihan yang disukai para siswa. Ketika lauk dan penyajiannya sesuai selera, makanan yang dibagikan cenderung lebih banyak dihabiskan.
“Anak-anak makannya lahap tergantung lauknya. Kalau dikasih menu garingan dan kekinian, langsung habis. Kalau telur agak berkurang,” imbuhnya.
Sebagai salah satu penerima layanan dengan jadwal khusus, yakni menjelang jam makan siang, Sugiyo tetap mengingatkan para siswanya agar tidak berlebihan dalam mengeluhkan makanan yang disajikan. Ia menegaskan bahwa menu MBG tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan standar kesehatan.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan, Farmasi dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, Dhina Handayani, mengatakan menu MBG harus disajikan sesuai siklus menu dan standar porsi berdasarkan sasaran penerima manfaat.
“Kami meminta agar SPPG memberikan MBG sesuai siklus menu dan standar porsi sasaran,” pintanya.
Dinkes Ngawi, kata Dhina juga telah memberikan sosialisasi dan edukasi mengenai menu bergizi. Untuk mendukung pengawasan, orang tua dan guru diminta turut memperhatikan foto menu yang diunggah di media sosial serta mengamati kondisi makanan, termasuk isi dan baunya.



