Kejaksaan Negri Barito Utara Hentikan Kasus KDRT, Ini Kata Kejari

  • Bagikan

MUARA TEWEH,terbitan.com – Kejaksaan Negri (Kejati) Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah melakukan Penghentian penuntutan atau istilah sebutan restorasi justice (keadilan restoratif) terhadap HT seorang tersangka kasus tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang telah menganiaya seorang istrinya ITA.

Restorasi justice merupakan progam Kejaksaan Agung di launching sejak Agustus 2020 lalu yang tertuang dalam peraturan Kejagung Nomor 15 tahun 2020, tentang Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif (Penuntutan yang mengedepankan hati nurani),” kata Kajari Barito Utara, Iwan Catur Karyawan Harianja, Rabu (03/03)

Lanjut Iwan, penghentian tuntutan ini dilakukan, berawal dari adanya permintaan seorang korban yang tidak lain adalah istri terdakwa kepada jaksa penuntut umum (JPU) agar perkara ini tidak dilanjutkan sampai ke persidangan.

“Setelah dipelajari secara aturan intern kami, dan mengacu pada keadilan restoratif membolehkan. Pertama, ancaman hukuman dibawah lima tahun. Terdakwa juga baru pertama kali melakukan tindak pidana artinya masih belum residivis atau belum pernah melakukan tindak pidana berulang-ulang.

“Dari sisi kemanusiaan kami melihat, terdakwa sampai saat ini masih menafkahi anak istrinya dan memiliki anak yang masih kecil. Jika perkara ini diteruskan berdampak pada kondisi kejiwaan anak. Beberapa hal pertimbangan kita, meski kita sempat paparan di Kejaksaan Agung dan selanjutnya disarankan Kejagung dalam melakukan tuntutan mengedepankan hati nurani, sehingga menghentikan penuntutan berdasarkan keadilan restoratif,” ujar Iwan.

Baca juga:  Jual Sabu, Pria dan Wanita ini Berhasil Diamankan Satresnarkoba Polres Barut di Km 32 Jalan Negara Muara Teweh-Banjarmasin

Dikatakan Kajari, mereka sudah melakukan beberapa tahapan sebelum mengambil keputusan penghentian penuntutan kasus KDRT ini. Antara lain mempertemukan kedua belah pihak yang dihadiri penyidik dari kepolisian serta dihadiri keluarga juga para tokoh masyarakat selaku saksi. Intinya mereka bersepakat untuk menyatakan perdamaian tanpa syarat.

“Korban memaafkan secara ikhlas dan pelaku juga sudah meminta maaf serta berjanji tidak mengulangi. Tapi terdakwa HT mesti ingat ketetapan ini bisa di cabut kembali, apabila dalam waktu 14 hari mengulangi perbuatan sesampai di rumah. Atau setelah lewat dari 14 hari masih juga melakukan KDRT, akan menjadi kasus perkara baru, dan ancaman hukuman berat dan tidak ada lagi restorasi justice,” tegas Iwan yang menegaskan bahwa kasus ini sudah dilaporkan ke pimpinan di Kajati Kalteng dan telah mendapat persetujuan.

Baca juga:  Tak Lagi Meminta Piring Putih Atau Pencabutan Dumas di Polres! Surya Baya, Cuma Meminta PT BEK Secara Sportif dan Gentleman Mengakui Kesalahannya

“Pimpinan kami di Kejaksaan Agung, mengapresiasi langkah yang dilakukan Kejari Barito Utara, karena hukum itu tidak semata-mata mempidanakan orang, dan sesuai arahan Jaksa Agung juga, bahwa dalam penegakan hukum, tidak selalu hukum, tapi pakai juga hati nurani,” ucapnya.

“Surat penghentian penuntutan ini sudah saya tandatangani, setelah ini terdakwa bisa pulang ke rumah berkumpul bersama keluarga. Satu pesan saya, apabila setelah ini ada oknum yang mengatasnamakan saya dari kepala kejaksaan negri, maupun mengatasnamakan institusi berperan mengurus dan membantu penghentian kasus ini, jangan dipercaya dan jangan dilayani. Apalagi sampai mereka meminta uang atau apapun itu. Karena ini kami lakukan berdasarkan hukum dan kemanusiaan,” tandas Kajari

  • Bagikan