KPKS Bondowoso Desak Pelaku Karhutla dan Konversi Ilegal Dihukum Berat

BONDOWOSO, Terbitan.com – Pemerhati lingkungan yang mengatas namakan Komunitas Peduli Kantong Sarka (KPKS) Bondowoso, Murti Jasmani, mendesak penegak hukum di Kabupaten Bondowoso menghukum berat para pelaku penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal itu terjadi sekira Agustus 2019 lalu, hingga melanda pegunungan wilayah Suket. Akibatnya, kerusakan hutan faktor memicu terjadinya berbagai macam bencana yang pada akhirnya menimbulkan kerugian, baik itu kerugian material maupun non material.

Baca Juga :

“Jika Pemkab Bondowoso dan Pemerintah Jawa Timur pasca banjir bandang mengetahui adalah pemicu Karhutla untuk alih fungsi lahan (konversi) secara ilegal, maka harus bertindak cepat dan tegas. Sebelum kerusakan hutan semakin luas,” kata Murti, Jum’at (31/1/2020)

Murti sapaannya juga menyebut penegakan hukum haruslah adil, dan proses semua mafia pengrusakan hutan. Ia meminta tak ada tebang pilih dalam penanganan kasus karhutla maupun Konversi yang merugikan masyarakat.

“Terkait konversi lahan, sebagai niatan dari terjadinya karhutla, maka pelaku harus di hukum seberat-beratnya, tanpa pandang bulu. Kita butuh alam dan wajib untuk menjaga kelestariannya,” pintanya.

Menurutnya, konversi yang merubah fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula sangat berdampak negatif (masalah) terhadap lingkungan dan potensi lahan itu
sendiri.

Lebih tegas Murti mengatakan, konversi wilayah Bondowoso semakin mengkhawatirkan bagi kondisi ekologi dan ekosistem sekitarnya. Khususnya daerah pegunungan yang kini
menjadi lahan pertanian, lahan perkebunan atau beralih fungsi menjadi perumahan warga yang dilegalkan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

“Jelas beberapa pihak diduga melanggar Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang kehutanan
juncto Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup berkaitan dengan alih fungsi hutan
lindung,” tegasnya.

Sementara keberadaan Non Governmnet Organization (NGO) di kabupaten Bondowoso yang peduli terhadap lingkungan masih minim.Harus ada keterlibatan semua pihak atas kepedulian lingkungan untuk menyadarkan masyarakat.

“Kita tidak peduli itu wilayah Perhutani atau yang lainnya. Kita harus bersama-sama menjaga ekosistem disekitar pegunungan itu. Artinya, untuk menyadarkan masyarakat itu penting,” ungkapnya.

Sementara alam mau rusak atau bagaimanapun itu tergantung manusia. Harusnya kemarin itu (pasca kebakaran red) segera melakukan sesuatu (konservasi) sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Karena semua tidak menyangka akan terjadi curah hujan yang sangat deras. Jadi kepedulian semua pihak itu masih sangat rendah, entah itu dari pihak manapun

“Kita itu lengah, padahal kemarin itu sudah terjadi kebakaran hutan yang sangat dahsyat. Mari kita pikirkan bersama kelestarian hutan ini, jangan kemudian menunggu kejadian baru berbuat,” pungkasnya

Terbitan Terkait