Klinik NU Bondowoso Segera Beralih RSNU Bagi Ibu dan Anak

Prof. M. Noeh bersama H. Ahmad Dhafir saat dikonfirmasi wartawan

BONDOWOSO, Terbitan.com – Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Bondowoso melakukan Rapat Koordinasi bersama Ketua Yarsis ( Yayasan Rumah Sakit Islam) Jatim, Prof. Dr. Ir. M. Nuh, DEA yang juga mantan Menteri Pendidikan RI

Hal itu, guna mewujudkan cita – cita NU menjadikan Rumah Sakit NU
sebagai bagian dari media dakwah sambil berkarya nyata (dakwah bil
hal) dan pengembangan rasa ukhuwah Islamiyah.

Baca Juga :

Menjadikan Rumah Sakit NU ikut berperan menjadi garda terdepan dalam Pelayanan kesehatan kepada warga Bondowoso. Guna melayani kesehatan masyarakat yang promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif

Maka peralihan status Klinik NU Bondowoso, menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA NU), mendapatkan support penuh oleh Yayasan Rumah Sakit Islam (Yarsis) Jawa Timur. Bahkan Ketua Yarsis Jatim, Prof. Muhammad Nuh, meninjau langsung kesiapan lokasi, Sabtu (26/9/2020).

Dalam kunjungan kali ini, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan datang ke Bondowoso guna melakukan rapat koordinasi dengan Yayasan dan tim alih status RS NU.

Selain melihat bangunan dan fasilitas yang ada. Prof Nuh juga meninjau langsung kesiapan lahan, kurang lebih sekitar dua hektar.

Prof M. Nuh mengatakan, bahwa langkah yang diambil oleh Yayasan RS NU Bondowoso sudah sangat tepat. “Karena saat ini, persoalan yang dihadapi adalah layanan kesehatan,” katanya.

Sementara berdasarkan kajian sementara, bahwa dari rasio jumlah penduduk Bondowoso yang ada di angka 800-900 ribu, kapasitas bet masih kurang 300-400.

Ia menyarankan, agar desain RS NU dimulai dari IGD harus ada negative pressure, untuk menangani penyakit menular seperti TBC dan sebagainya. “Sehingga virus dari dalam ruangan tidak menyebar kemana-mana,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut dia, ruang operasi juga harus merupakan ruangan dengan negative pressure. “RS Soetomo yang merupakan RS terbesar dengan 1.500 bet. Baru punya satu atau dua. Sehingga dengan ini RS NU ini friendly dengan penyakit menular,” paparnya.

Dalam transisi ini kata dia, harus ada empat tahapan yang diperhatikan. Yakni pertama aspek legal atau perijinan. “Tapi untuk ini katanya sudah selesai,” terangnya.

Kedua tentu adalah kesiapan fisik atau bangunan. Idealnya bukan berbentuk poli klinik lagi. “Termasuk spesialis-spesialis dasar harus dipenuhi. Tidak hanya dokter umum, dan satu dua spesialis,” terangnya.

Selain itu, manajemennya juga harus dirubah, dan dikembangkan lagi. Karena manajemen klinik dan rumah sakit sangat berbeda. “Nanti kan juga dikawinkan dengan BPJS dan asuransi-asuransi, dan reportnya juga menggunakan IT,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Tim Transisi RS NU Bondowoso, Ahmad Dhafir mengatakan, bahwa yang perlu disiapkan adalah fasilitas dan mengorganisir kembali. Agar bisa menjadi rujukan, khususnya warga NU.

Menurutnya, adapun luasan lahan tambahan yang disiapkan untuk RSIA NU ini, lebih dua hektar. “Lahannya sudah dibebaskan dan ada yang tukar guling,” jelasnya.

Pihaknya siap membangkitkan RSAI NU tersebut, dengan memberikan subsidi kepada tenaga medis. “Siap mensubsidi gaji tenaga medis selama setahun, dimulai bulan ini, sehingga paramedis aktif selama 24 jam. Bahkan spesialis kandungan siap buka praktik di sini,” terangnya.

Sementara untuk ijin peralihan status dari Klinik NU ke Rumah Sakit Ibu dan Anak NU Bondowoso, sudah ada selesai. “Ijin Rumah Sakit Ibu dan Anak sudah terbit, kami sudah bisa praktik,” ungkapnya.

Pos terkait